
"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal. Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha .
Maulana Malik Ibrahim (Wafat 1419)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina." Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan).
Sunan Kalijaga
Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak
Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali --yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti .
Selengkapnya...
Rabu, 01 Juli 2009
Wali Songo
Selasa, 26 Mei 2009
Sultan Butuni, Pemimpin Orang Buton

Selama ini, Pulau Buton lebih dikenal sebagai pulau penghasil aspal. Padahal di luar hasil bumi itu, pulau ini memiliki “harta karun” nan dasyat. Yakni, jejak arkeologis berupa benteng-benteng yang nyaris mengepung seluruh pulau dan sejarah panjang Kesultanan Butuni.
Pulau Buton adalah pulau benteng. Karena, bangunan yang menjadi basis pertahanan militer tersebut tersebar di banyak tempat. Sehingga, pulau tersebut kerap disebut sebagai “Negeri Seribu Benteng” atau “castle in town”. Karena, kota-kota penting di pulau itu hampir dikelilingi benteng-benteng – mirip konsep tata ruang negeri Jerman yang dikelilingi benteng-benteng. Namun, dunia pariwisata kerap “memaksa” wisatawan yang berkunjung ke daerah itu hanya mengenal Benteng Keraton Wolio. Ini bisa dimaklumi, karena benteng itu merupakan simbol kejayaan Kesultanan Butuni, sekaligus sebagai satu-satunya bukti sejarah yang masih terawat.
Benteng Keraton Wolio dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Buton ke-3 La Sangaji pada abad ke-15. Dan, bangunan itu benar-benar rampung pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-6 La Buke pada 1634. Keunikan bangunannya; bila dilihat dari atas, dengan bangunan sebelas selatan sebagai kepalanya, maka akan memnentuk huruf “dal” – huruf ke delapan pada alfabet bahasa Arab atau huruf terakhir nama Baginda Rasulallah Muhammad saw. Pintu benteng (lawa) berjumlah 12, yang bermakna jumlah lubang pada tubuh manusia. Atau, bisa juga bermakna 12 lokasi yang dipilih oleh Tuhan, untuk mendapatkan tanah pembentuk Nabi Adam As. Bastion (kubu pengawas) berjumlah 16. Tapi, sumber lain menyebutkan 17 – jumlah rakaat dalam shalat selama sehari. Angka-angka itu tidak muncul secara kebetulan. Tapi, perancang pembangunan benteng memang menyiapkannya secara khusus, untuk memberikan gambaran adanya nilai tasawuf dalam pemerintahan Kesultanan Butuni. Sekaligus monumen bagi rakyatnya, untuk terus memahami dan mengamalkan akhlak mulia yangbersandarkan ajaran Ilmu Tasawuf tersebut.
Dulu, Benteng Keraton Wolio menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, sosial, dan syiar Islam. Selain itu, bagian dalam benteng juga menjadi lokasi pemukiman. Hal itu memungkinkan, karena benteng memiliki lahan yang luas, yakni sekitar 400.000 m² dan dikelilingi benteng sepanjang 2740 m. Tinggi temboknya 2-8 m dan lebar 1-2 m.
Pulau Buton di masa silam adalah Kerajaan Hindu dengan I Wa Kaa Kaa sebagai raja pertamanya. Saat itu, nama Pulau Buton telah diperhitungkan dan tercatat dalam sejarah pelayaran nusantara. Terbukti, Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca menuliskan keberadaan Pulau Buton. Kerajaan Buton berubah menjadi Kesultanan Butuni, setelah Raja Buton ke-6 Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo menjadi muslim dan berganti nama menjadi Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul. Pengisalaman ini merupakan buah kehadiran Ahli Ilmu Tasawuf asal Negeri Gujarat Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al-Fathani di Pulau Buton.
Wajah Islam di lingkungan kesultanan makin berbinar, setelah sang syekh pun menanamkan ajaran tasawuf pada sultan dan keluarganya. Sehingga, pemahaman mereka akan Islam benar-benar makin kokoh. Buah terindah dari bibit ajaran soal penyucian akhlak oleh Syekh Abdul Wahid dan Sultan Murhum Kaimuddin adalah diterbitkannya UUD Martabat Tujuh sebagai undang-undang tertinggi di negeri itu. Perancang UUD tersebut adalah Sultan Butuni ke-6 Dayanu Ikhsanuddin.
Kekayaan ajaran tasawuf di setiap sendi kehidupan Kesultanan Butuni juga diperlihatkan manuskrip-manuskrip kuno, yang disimpan seorang warga Benteng Keraton Mulia, Muzaji Mulki. Seluruh manuskrip bertuliskan huruf Arab namun isinya menggunakan Bahasa Arab, Wolio, dan Melayu. Bahasa Melayu muncul dalam manuskrip, karena Syekh Abdul Wahid lama bermukim di Johor, Malaysia. Bahkan, penyebar Islam atau guru-guru yang berdatangan ke pulau tersebut setelah Syekh Abdul Wahid umumnya berasal dari Negeri Jiran.
Namun, yang harus dicatat dengan tinta emas adalah kehadiran UUD Martabat Tujuh. Karena, hal itu sama artinya, Kesultanan Butuni telah menempatkan ajaran tasawuf sebagai pijakan utama. Sehingga, mereka bukan lagi berada di wilayah syariat – seperti yang saat ini ramai diterapkan di berbagai daerah di tanah air. Namun, mereka justru telah berada di wilayah tarekat! Dengan UUD Martabat Tujuh, Kesultanan Butuni membangun tata kehidupan yang demokratis dan bertanggungjawab. Bahkan, jabatan sultan pun bukan dicapai karena trah semata. Tapi, ia merupakan orang yang dipilih oleh Anggota Dewan (patalimbona) karena kemampuan dan akhlaknya. Karena persoalan akhlak, seorang sultan bisa dilengserkan bila kedapatan melakukan pelanggaran.
Selain itu, tata cara pengaturan pemerintahan, pengambilan keputusan, dan hubungan sosial antarwarga atau dengan negeri lain, semuanya atas dasar akhlak mulia. Bukan untuk menimbulkan masalah. Tapi, memang ditujukan untuk kesejahteraan dan keselamatan seluruh rakyat. Sehingga, sang sultan bertanggungjawab penuh atas situasi lahir-batin seluruhya warganya. Ia juga sadar bahwa kelak Allah swt akan meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Pimpinan atau pejabat apa pun di masa itu biasanya akan melakukan sujud syukur ketika tugasnya berakhir. Jadi, bukan ketika ia terpilih atau diangkat. Hal ini merupakan cermin, tugas atau jabatan adalah amanah, hingga harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab. Setelah selesai dan dianggap berhasil, maka merasa perlu untuk berterima kasih kepadaNya. Karena, sesungguhnya ia hanyalah kepanjangan dari tangan-tangan Yang Maharaja.
Cerita tentang tasawuf itu sendiri hingga kini masih menjadi kebanggaan warga Pulau Buton. Tapi, jangan tanya soal kelompok tarekat di tempat itu. Karena, mereka umumnya masih tertutup dan menganggapnya sebagai hal yang rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang berhak tahu dan bisa menjadi bagian dari komunitasnya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan situasi di Jawa, Sulawesi Selatan, atau Sulawesi Barat, yang masih memberikan “ruang” bagi orang awam, untuk mengetahui keberadaan sebuah kelompok tarekat.
Inspirasi yang berhembus dari Pulau Buton adalah betapa indahnya taman surga yang dikelola dengan nuansa Islam yang sebenar-benarnya Islam. Islam yang menghadirkan kedamaian dan ketentraman bagi siapa pun. Utamanya, Islam yang dikembangkan itu berpijak pada martabat syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat. Karena, Kesultanan Butuni senantiasa dipimpin oleh Sultan yang memahami dan mengamalkan Ilmu Tasawuf secara mendalam. Sehingga, kebutuhan sang Sultan bukan lagi untuk diri pribadi. Tapi, lebih kepada Diri Pribadi. Semuanya hanya untuk Yang Maharaja. Maka, kemuliaan pulalah yang diraih oleh negeri dan rakyatnya. Subhanallah.
Bila diamati lebih dalam, para Sultan Butuni jelas merupakan gambaran pribadi-pribadi yang senantiasa berserah diri kepada yang Mahasuci. Dengan demikian, mereka pun telah melewati tahapan-tahapan perjalanan batiniah yang panjang. Dengan pribadi yang senantiasa berserah diri, maka jelas mereka pun senantian bersabar, bersyukur, bertawakal, dan berzuhud. Serta, istiqomah menjaga bangunan hatinya. Maka sangatlah wajar, bila produk-produk yang dihasilkan oleh para sultan adalah senantiasa menebarkan kemuliaan bagi warga Pulau Buton. Bahkan, mereka pun benar-benar bertanggungjawab atas apa-apa yang diterima oleh rakyatnya secara lahiriah atau batiniah. Sehingga, Pulau Buton laksana taman surga bagi para penghuninya. Serta, membuat sultan dan rakyatnya terus saja istiqomah berserah diri kepada Yang Maharaja.
Di tempat saat ini kita berdiri dan mengais nafkah, adakah pemimpin nan kharismatik laksana para Sultan Butuni? Atau, paling tidak ia memiliki pola leadership laksana punggawa perahu sandeq? Bila tidak, lalu bagaimana kita menyikapinya?
Belajarlah kepada sikap Imam Ali bin Abi Thalib kw, ketika beliau dihadapkan pada masalah yang sama. Jawab beliau, “Itulah saudara-saudara kita yang berbeda paham dengan kita.”
Sekadar berbeda paham. Sederhana alasannya. Sehingga, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh, untuk menuduhnya sebagai musuh. Bahkan, jangan lagi menyebutnya sebagai kaum kafir atau munafik. Biarlah hanya Allah Swt yang mengatur sebutan atau julukan-julukan buat mereka. Namun, sebagai manusia yang paham akan adab dan etika pergaulan, kita harus menjalankan hukum pergaulan yang lebih sehat dan berakhlak mulia. Bersikap seperti biasa dan memandang atasan dan kaumnya sebagai saudara-saudara kita juga.
Dalam bahasa politik, “tidak ada pertemanan yang abadi”. Karena itu, berhati-hatilah dalam melangkah dan berhati-hatilah saat bersikap terhadap orang lain. Sekarang teman atau sahabat, esok belum tentu. Sekarang musuh atau lawan, esok juga belum tentu. Waktu sering mengarahkan pada perubahan-perubahan. Bahkan, Rasulallah saw sudah memprediksi dan mewarningnya jauh-jauh hari, untuk selalu bijak dalam membuat keputusan. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menyelamatkan umatnya dari keterasingan dan kesalahan dalam bergaul.
Bila hal itu masih mengganjal, cobalah bertanya kepada diri kita sendiri dan menjawabnya secara jujur. Jadikan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai bahan introspeksi, agar tidak melulu berpikir tentang sikap atau karakter atasan atau pemimpin kita. Sebaliknya, kita mencoba mengawalinya dari diri kita sendiri.
Apa yang sebenarnya sedang kita cari?
Kalau arah pertanyaan itu tentang jabatan, kedudukan, posisi, atau keinginan mendapatkan fasilitas duniawi, maka alangkah hinanya diri ini. Karena, itu sama artinya dengan memberhalakan dan memuliakan masalah-masalah duniawi. Jabatan atau posisi memang berdampak pada income atau gaji. Termasuk, fasilitas-fasilitas perusahaan. Selain itu, juga akan berdampak pada penghormatan atau aktualisasi diri di tengah masyarakat. Begitu menggiurkan, memang.
Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin memiliki banyak harta-benda? Siapa yang tidak ingin dihargai? Siapa yang tidak ingin dimuliakan? Pasti semua orang, karyawan di kantor mana pun, memang berkeinginan dan berlomba-lomba memburunya. Tapi, apa hal-hal seperti itu yang menjadi tujuan hidup?
Padahal tanpa itu semua, Allah pun tetap memberikan tempat untuk orang-orang yang mau dekat denganNya. Orang-orang yang taqwa. Banyak contoh tentang orang-orang yang kaya-raya, memiliki jabatan dan posisi terhormat, dan dielu-elukan orang di mana pun, tapi hatinya merana. Hatinya tersiksa. Hatinya justru dipenjarakan oleh keduniawiannya sendiri.
Karena itu, pendapat untuk mengedepankan jabatan, posisi, fasilitas, harta, atau kehormatan, tanpa mengindahkan pemberian yang sesuai porsi dari Nya, jelas keliru. Karena, khawatir, jabatan, harta, dan kehormatan itulah, yang akan membawa kita lari dari Allah. Sungguh malu rasanya, ketika kita ditantang untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, namun sesungguhnya kita termasuk orang yang mendewakan jabatan, harta, dan kehormatan. Naudzubillah.
Tidak cukupkah apa-apa yang telah kita dapat selama ini?
Bagaimana pula menjawab pertanyaan ini, bila kita tidak pernah merasa cukup dengan apa-apa yang kita dapat selama ini. Sungguh, kita termasuk orang yang tidak bisa berterima-kasih. Kita tergolong orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Padahal, Allah telah melimpahkan segala-galanya untuk hidup kita. Cobalah menoleh sedikit saja ke samping kanan atau kiri. Bahkan, ke bawah. Perhatikanlah, adakah mereka yang hidup tidak seberuntung kita?
Jawabannya, pasti sangat banyak! Sangat banyak dibandingkan harga burger yang kita beli di foodcourt. Artinya, sesungguhnya kita sudah hidup berlebih. Lebih di atas rata-rata. Jadi, saatnyalah bersyukur dan berterima-kasih.
Tidakkah kita inginkan kemuliaan di alam baqa?
Inilah pertanyaan terberat, yang sulit untuk dijawab.
Ingat kembali cerita raja mukmin dan raja kafir. Ya, meraih kemuliaan seperti sang raja mukmin. Hidup secara sederhana dan apa adanya, serta berbuat banyak kebajikan untuk memanjakanNya, namun memperoleh tempat terhormat di alam abadi nanti. Artinya, keinginan untuk mengiyakan pertanyaan ini sama artinya, dengan terus mengakui adaNya dan kuasaNya. Yakinlah, Allah itu ada dan mengawasi setiap gerak kita. Allah juga begitu berkuasa untuk mengatur segalanya. Terutama, kehidupan makhluk-makhluk ciptaanNya. Karena itu, tidak alasan untuk lepas dari keyakinan tentang adaNya. Inilah pelajaran tauhid pertama yang perlu dirasakan kebenarannya.
Bila adaNya telah kita dapati, maka saatnyalah menjejaki keyakinan tentang kuasaNya. Sesungguhnya, perjalanan hidup manusia dan segala geraknya adalah atas kuasaNya. Perusahaan hanyalah syariat. Boss atau atasan pun syariat, untuk meyakini adaNya dan kuasaNya. Karena itu, kita harus makin meyakini adaNya. Kita juga harus merasakan kuasaNya. Teruslah mendekatkan diri dengan shalat dan zikir agar adaNya memang terasa. Sehingga, kita tak lagi ragu akan kebenaran dan keagungan kalimat sang kekasih Allah. Bila keraguan itu tak ada lagi, bila keyakinan itu makin menebal, saatnya jugalah kita menikmati kuasaNya. Bukan lagi sebatas obyek, yang terus disuapi nikmat dan hidayahNya. Tapi, jadilah kepanjangan tanganNya. Dengan berbuat kebajikan di segala kehidupan.
Istighfar dan teruslah istighfar. Bertanya lagi pada diri kita tentang tujuan hidup. Akankah jabatan, posisi, dan fasilitas perusahaan, menjadi sasaran kita? Sungguh sayang seribu sayang, bila pada akhirnya akar masalah dan jawabannya hanyalah soal materi. Ya, persoalan duniawi. Saatnyalah meyakini prinsif kita sendiri. Jangan takut dimusuhi atau tidak memiliki teman. Tentukan posisi, di mana kita akan berdiri? Kita akan menjadi kaum apa? Tentukan pilihan dan rasakan resikonya. Karena, kita harus selalu kan sadar, setiap keputusan akan berbuah resiko. Saatnyalah membela kata hati kita sendiri, yang sudah kita yakini kebenarannya di lihat dari sudut mana pun.
Dengan begitu, barulah kita bisa berani memutuskan diri, untuk beristiqomah. Memulai hidup baru dengan konsep yang tercerahkan, dengan akhlak yang lebih mulia, dan dengan optimisme yang lebih besar. Tidak lagi memelihara penyakit hati. Tidak ada lagi orang-orang yang musuh atau pesaing. Tidak ada lagi orang-orang yang kita sebut kafir atau munafik.
Tidak mudah mendapati pemimpin laksana Sultan Butuni. Atau sedikitnya, seperti punggawa perahu sandeq. Mereka lahir dan berkembang di taman surga, yang memungkinkan individu-individunya memiliki pribadi-pribadi yang senantiasa bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan berserah diri. Tapi sebagai insan yang bertekad memuliakan diri ini dan sekeliling kita, maka sudah sepantasnya, perangkat pribadi-pribadi seperti sang Sultan Butuni itu melekat juga di bangunan hati kita. Sehingga, kalaupun kita belum memiliki kesempatan menjadi pemimpin, tapi kita telah bersiap-siap dengan bekal yang memadai. Kita bisa terlihat sebagai pemimpin, meskipun saat itu posisi kita bukan sebagai pemimpin. Itulah pribadi-pribadi yang kharismatik dan berwibawa. Dengan kenyataan itu, paling tidak kita bisa lebih siap berhadapan dengan siapa pun. Temasuk, atasan kita. Tanpa merasa kecil, rendah, atau tidak berguna.
Tapi, dengan bekal kemampuan dan semangat, serta personal power yang melimpah, sudah pasti, kita hanya tengah berhitung-hitungan dengan waktu. Sejatinya, dengan kemampuan dan semangat itu sendiri, maka kita telah memperlihatkan secara nyata elemen kepatuhan kita terhadap profesi dan perusahaan (jadi bukan dengan atasan semata). Dan, itu jauh lebih mulia, dibandingkan hanya menyajikan semangat dan kepatuhan. Ada pun masalah keberuntungan, kembali berpulang kepada Yang Mahaberkehendak.
Sebagai manusia, kita hanya wajib bersyariat. Sedangkan masalah hakekat, sepenuhnya menjadi hak Allah. Keseimbangan memaknai kewajiban dan hak itulah yang menunjukkan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Semoga saja sebagai manusia yang sempurna atau insan kamil.
Kesultanan Butuni memberikan banyak pelajaran bagi kita. Pertama, soal pola kepemimpinan dalam kesultanan yang memiliki tradisi Islam begitu kokoh. Dan kedua, tentu saja, menyangkut sosok pemimpin negeri yang amanah. Berabad-abad yang lalu, kalangan gusti di Kesultanan Butuni telah membenamkan diri dalam zona kesuciaan dengan penuh keikhlasan dan keridhaan. Sebenarnya, saat itu mereka tengah menikmati banyak kemuliaan laksana Nabi Allah Sulaiman as. Namun, ketika pesan kebangkitan atau pencerahan diri tiba, mereka pun menyambutnya dengan gegap-gempita. Mereka bukan hanya menikmati kenyamanan Islam sebagai kendaraan untuk menapaki jalan lurus. Tapi, mereka justru makin melarutkan diri dengan kedalaman ajaran Islam itu sendiri, untuk menjangkau surga yang sebenar-benarnya. Surga di dunia dan akhirat. Amati kembali bagaimana pribadi-pribadi yang diperlihatkan oleh para Sultan Butuni. Perhatikan juga bagaimana ia dilahirkan dan ditempa oleh sekelilingnya. Para Sultan Butuni adalah produk masyarakat adat yang terkondisikan untuk senantiasa bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan berserah diri, kepada Yang Maharaja. Sehingga, sangatlah wajar istiqomah batiniah secara massal itu membentuk pribadi-pribadi nan mempersona. Yakni, para pemimpin yang bersiaga mengemban amanah, mencurahkan kemuliaan, dan menghindangkan surga bagi rakyatnya.
Kisah para Sultan Butuni tidak ubahnya kisah bunga hias nan indah, tapi membenamkan diri di antara rerumputan liar. Padahal, ia berada di vas bunga besar dan indah dan diletakkan di rumah kaca. Tapi, ia ikhlas menghantarkan kemuliaan derajatnya untuk menyatu dengan tanaman lain. Bahkan, rerumputan. Dan, dengan tangan mulianya itulah, ia tebarkan kemuliaan bagi tanaman lain. Sehingga mereka pun sama-sama berada di taman luas nan indah.
Para Sultan Butuni merupakan bunga inspirasi pemimpin negeri yang senantiasa berserah diri kepada Yang Maharaja. Karena, ia mengemban amanah itu kemuliaan dirinya dan juga rakyatnya. Serta menjadikan Kesultanan Butuni sebagai surga bagi warga Pulau Pulau Buton. Dan, yakinilah bahwa pada hakekatnya setiap dari kita pun mengemban amanah laksana Sultan Butuni. Namun, adakah kesabaran untuk menantikan masa itu, serta kesiapan untuk menebarkan kemuliaan untuk sekeliling kita? Masa itu pastinya akan datang. Entah di ruang yang mana.
Yang pasti, bila di hati kita masih ada kejengkelan akan nasib yang belum pasti atau berbagai belenggu persoalan lainnya, maka segera saja membasuh wajah dengan air wudhu. Lalu, dirikan shalat sunnah dan fardhu, serta berzikir selepas-lepasnya. Kita coba tauladani setangkai rumput yang rajin membasuh daun-daunnya dengan embun pagi seraya mengalunkan pujian buatNya. Di hadapan Yang Mahahidup, kita bisa berserah diri sambil mengungkapkan kegalauan hati dengan sepuas-puasnya.
Dia ada, karena itu Dia hadirkan nama Baginda Rasullah Muhammad saw di langit ketujuh, sehingga Nabi Allah Adam as menyaksikannya. Bahkan, beliau berdoa atas nama makhluk ciptaanNya yang tersempurna dan terkasih itu.
Dia ada, karena itu Dia sediakan alam semesta dan isinya, untuk menampung harmoni kehidupan makhluk-makhluknya. Bahkan, Dia pun menebarkan kemuliaan nama-nama agungNya, agar dijadikan selimut bagi makhlukNya yang paling sempurna.
Dia berkuasa, karena itu Dia juga merancang dan mengatur alur kehidupan makhluk-makhlukNya dengan begitu sempurna. Hidup-mati, kaya-miskin, suka-duka, berhasil-gagal, adalah bukti-bukti kecintaan kepada makhluk-makhlukNya. Sehingga, Dia merasakan sentuhan bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan bertaslim, dari makhluk-makhlukNya. Agar mereka benar-benar mampu meraih cintaNya nan tiada tara.
Selengkapnya...
