bismillaahirrahmaanirrahiim
[1:1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
[1:1] In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful.
idzaa waqa’ati lwaaqi’at
[56:1] Apabila terjadi hari kiamat,
[56:1] When the great event comes to pass,
laysa liwaq’atihaa kaadziba
[56:2] tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.
[56:2] There is no belying its coming to pass –
khaafidhatun raafi’a
[56:3] (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),
[56:3] Abasing (one party), exalting (the other),
idzaa rujjati l-ardhu rajjaa
[56:4] apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
[56:4] When the earth shall be shaken with a (severe) shaking,
wabussati ljibaalu bassaa
[56:5] dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,
[56:5] And the mountains shall be made to crumble with (an awful) crumbling,
fakaanat habaa-an munbatstsaa
[56:6] maka jadilah ia debu yang beterbangan,
[56:6] So that they shall be as scattered dust.
wakuntum azwaajan tsalaatsa
[56:7] dan kamu menjadi tiga golongan.
[56:7] And you shall be three sorts.
fa-ash-haabu lmaymanati maa ash-haabu lmaymanat
[56:8] Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu.
[56:8] Then (as to) the companions of the right hand; how happy are the companions of the right hand!
wa-ash-haabu lmasy-amati maa ash-haabu lmasy-amat
[56:9] Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
[56:9] And (as to) the companions of the left hand; how wretched are the companions of the left hand!
wassaabiquuna ssaabiquun
[56:10] Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
[56:10] And the foremost are the foremost,
ulaa-ika lmuqarrabuun
[56:11] Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
[56:11] These are they who are drawn nigh (to Allah),
fii jannaati nna’iim
[56:12] Berada dalam jannah kenikmatan.
[56:12] In the gardens of bliss.
tsullatun mina l-awwaliin
[56:13] Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
[56:13] A numerous company from among the first,
waqaliilun mina l-aakhiriinaa
[56:14] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian
[56:14] And a few from among the latter.
‘alaa sururin mawdhuuna
[56:15] Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
[56:15] On thrones decorated,
muttaki-iina ‘alayhaa mutaqaabiliin
[56:16] seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
[56:16] Reclining on them, facing one another.
yathuufu ‘alayhim wildaanun mukhalladuun
[56:17] Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
[56:17] Round about them shall go youths never altering in age,
bi-akwaabin wa-abaariiqa waka/sin min ma’iin
[56:18] dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,
[56:18] With goblets and ewers and a cup of pure drink;
laa yushadda’uuna ‘anhaa walaa yunzifuun
[56:19] mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
[56:19] They shall not be affected with headache thereby, nor shall they get exhausted,
wafaakihatin mimmaa yatakhayyaruun
[56:20] dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
[56:20] And fruits such as they choose,
walahmi thayrin mimmaa yasytahuun
[56:21] dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
[56:21] And the flesh of fowl such as they desire.
wahuurun ‘iin
[56:22] Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
[56:22] And pure, beautiful ones,
ka-amtsaalillu/lui lmaknuun
[56:23] laksana mutiara yang tersimpan baik.
[56:23] The like of the hidden pearls:
jazaa-an bimaa kaanuu ya’maluun
[56:24] Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
[56:24] A reward for what they used to do.
laa yasma’uuna fiihaa laghwan walaa ta/tsiimaa
[56:25] Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
[56:25] They shall not hear therein vain or sinful discourse,
illaa qiilan salaaman salaamaa
[56:26] akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
[56:26] Except the word peace, peace.
wa-ash-haabu lyamiini maa ash-haabu lyamiin
[56:27] Dan golongan kanan, alangkah bagianya golongan kanan itu.
[56:27] And the companions of the right hand; how happy are the companions of the right hand!
fii sidrin makhdhuud
[56:28] Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
[56:28] Amid thornless lote-trees,
wathalhin mandhuud
[56:29] dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
[56:29] And banana-trees (with fruits), one above another.
wazhillin mamduud
[56:30] dan naungan yang terbentang luas,
[56:30] And extended shade,
wamaa-in maskuub
[56:31] dan air yang tercurah,
[56:31] And water flowing constantly,
wafaakihatin katsiira
[56:32] dan buah-buahan yang banyak,
[56:32] And abundant fruit,
laa maqthuu’atin walaa mamnuu’a
[56:33] yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.
[56:33] Neither intercepted nor forbidden,
wafurusyin marfuu’a
[56:34] dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
[56:34] And exalted thrones.
innaa ansya/naahunna insyaa
[56:35] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
[56:35] Surely We have made them to grow into a (new) growth,
faja’alnaahunna abkaaraa
[56:36] dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
[56:36] Then We have made them virgins,
‘uruban atraabaa
[56:37] penuh cinta lagi sebaya umurnya.
[56:37] Loving, equals in age,
li-ash-haabi lyamiin
[56:38] (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
[56:38] For the sake of the companions of the right hand.
tsullatun mina l-awwaliin
[56:39] (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.
[56:39] A numerous company from among the first,
watsullatun mina l-aakhiriin
[56:40] dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.
[56:40] And a numerous company from among the last.
wa-ash-haabu sysyimaali maa ash-haabu sysyimaal
[56:41] Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
[56:41] And those of the left hand, how wretched are those of the left hand!
fii samuumin wahamiim
[56:42] Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,
[56:42] In hot wind and boiling water,
wazhillin min yahmuum
[56:43] dan dalam naungan asap yang hitam.
[56:43] And the shade of black smoke,
laa baaridin walaa kariim
[56:44] Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
[56:44] Neither cool nor honorable.
innahum kaanuu qabla dzaalika mutrafiin
[56:45] Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.
[56:45] Surely they were before that made to live in ease and plenty.
wakaanuu yushirruuna ‘alaa lhintsi l’azhiim
[56:46] Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.
[56:46] And they persisted in the great violation.
wakaanuu yaquuluuna a-idzaa mitnaa wakunnaa turaaban wa’izhaaman a-innaa lamab’uutsuun
[56:47] Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?,
[56:47] And they used to say: What! when we die and have become dust and bones, shall we then indeed be raised?
awa aabaaunaa l-awwaluun
[56:48] apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga)?”
[56:48] Or our fathers of yore?
qul inna l-awwaliina wal-aakhiriin
[56:49] Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian,
[56:49] Say: The first and the last,
lamajmuu’uuna ilaa miiqaati yawmin ma’luum
[56:50] banar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.
[56:50] Shall most surely be gathered together for the appointed hour of a known day.
tsumma innakum ayyuhaa dhdhaalluuna lmukadzdzibuun
[56:51] Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,
[56:51] Then shall you, O you who err and call it a lie!
laaakiluuna min syajarin min zaqquum
[56:52] benar-benar akan memakan pohon zaqqum,
[56:52] Most surely eat of a tree of Zaqqoom,
famaali-uuna minhaa lbuthuun
[56:53] dan akan memenuhi perutmu denganya.
[56:53] And fill (your) bellies with it;
fasyaaribuuna ‘alayhi mina lhamiim
[56:54] Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.
[56:54] Then drink over it of boiling water;
fasyaaribuuna syurba lhiim
[56:55] Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.
[56:55] And drink as drinks the thirsty camel.
haadzaa nuzuluhum yawma ddiin
[56:56] Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan”.
[56:56] This is their entertainment on the day of requital.
nahnu khalaqnaakum falawlaa tushaddiquun
[56:57] Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?
[56:57] We have created you, why do you not then assent?
afara-aytum maa tumnuun
[56:58] Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
[56:58] Have you considered the seed?
a-antum takhluquunahu am nahnu lkhaaliquun
[56:59] Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
[56:59] Is it you that create it or are We the creators?
nahnu qaddarnaa baynakumu lmawta wamaa nahnu bimasbuuqiin
[56:60] Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
[56:60] We have ordained death among you and We are not to be overcome,
‘alaa an nubaddila amtsaalakum wanunsyi-akum fii maa laa ta’lamuun
[56:61] untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
[56:61] In order that We may bring in your place the likes of you and make you grow into what you know not.
walaqad ‘alimtumu nnasy-ata l-uulaa falawlaa tadzakkaruun
[56:62] Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
[56:62] And certainly you know the first growth, why do you not then mind?
afara-aytum maa tahrutsuun
[56:63] Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
[56:63] Have you considered what you sow?
a-antum tazra’uunahu am nahnu zzaari’uun
[56:64] Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
[56:64] Is it you that cause it to grow, or are We the causers of growth?
law nasyaau laja’alnaahu huthaaman fazhaltum tafakkahuun
[56:65] Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.
[56:65] If We pleased, We should have certainly made it broken down into pieces, then would you begin to lament:
innaa lamughramuun
[56:66] (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian”,
[56:66] Surely we are burdened with debt:
bal nahnu mahruumuun
[56:67] bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.
[56:67] Nay! we are deprived.
afara-aytumu lmaa-alladzii tasyrabuun
[56:68] Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
[56:68] Have you considered the water which you drink?
a-antum anzaltumuuhu mina lmuzni am nahnu lmunziluun
[56:69] Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?
[56:69] Is it you that send it down from the clouds, or are We the senders?
law nasyaau ja’alnaahu ujaajan falawlaa tasykuruun
[56:70] Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?
[56:70] If We pleased, We would have made it salty; why do you not then give thanks?
afara-aytumu nnaarallatii tuuruun
[56:71] Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).
[56:71] Have you considered the fire which you strike?
a-antum ansya/tum syajaratahaa am nahnu lmunsyi-uun
[56:72] Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?
[56:72] Is it you that produce the trees for it, or are We the producers?
nahnu ja’alnaahaa tadzkiratan wamataa’an lilmuqwiin
[56:73] Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.
[56:73] We have made it a reminder and an advantage for the wayfarers of the desert.
fasabbih bismi rabbika l’azhiim
[56:74] Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
[56:74] Therefore glorify the name of your Lord, the Great.
falaa uqsimu bimawaaqi’i nnujuum
[56:75] Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.
[56:75] But nay! I swear by the falling of stars;
wa-innahu laqasamun law ta’lamuuna ‘azhiim
[56:76] Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.
[56:76] And most surely it is a very great oath if you only knew;
innahu laqur-aanun kariim
[56:77] Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
[56:77] Most surely it is an honored Quran,
fii kitaabin maknuun
[56:78] pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
[56:78] In a book that is protected
laa yamassuhu illaa lmuthahharuun
[56:79] tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
[56:79] None shall touch it save the purified ones.
tanziilun min rabbi l’aalamiin
[56:80] Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
[56:80] A revelation by the Lord of the worlds.
afabihaadzaa lhadiitsi antum mudhinuun
[56:81] Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
[56:81] Do you then hold this announcement in contempt?
wataj’aluuna rizqakum annakum tukadzdzibuun
[56:82] kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.
[56:82] And to give (it) the lie you make your means of subsistence.
falawlaa idzaa balaghati lhulquum
[56:83] Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
[56:83] Why is it not then that when it (soul) comes up to the throat,
wa-antum hiina-idzin tanzhuruunaa
[56:84] padahal kamu ketika itu melihat,
[56:84] And you at that time look on –
wanahnu aqrabu ilayhi minkum walaakin laa tubshiruun
[56:85] dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,
[56:85] And We are nearer to it than you, but you do not see –
falawlaa in kuntum ghayra madiiniin
[56:86] maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) ?
[56:86] Then why is it not — if you are not held under authority –
tarji’uunahaa in kuntum shaadiqiin
[56:87] Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?
[56:87] That you send it (not) back — if you are truthful?
fa-ammaa in kaana mina lmuqarrabiin
[56:88] adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
[56:88] Then if he is one of those drawn nigh (to Allah),
farawhun warayhaanun wajannatu na’iim
[56:89] maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan.
[56:89] Then happiness and bounty and a garden of bliss.
wa-ammaa in kaana min ash-haabi lyamiin
[56:90] Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,
[56:90] And if he is one of those on the right hand,
fasalaamun laka min ash-haabi lyamiin
[56:91] maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.
[56:91] Then peace to you from those on the right hand.
wa-ammaa in kaana mina lmukadzdzibiina dhdhaalliin
[56:92] Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,
[56:92] And if he is one of the rejecters, the erring ones,
fanuzulun min hamiim
[56:93] maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,
[56:93] He shall have an entertainment of boiling water,
watashliyatu jahiim
[56:94] dan dibakar di dalam jahanam.
[56:94] And burning in hell.
inna haadzaa lahuwa haqqu lyaqiin
[56:95] Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.
[56:95] Most surely this is a certain truth.
fasabbih bismi rabbika l’azhiim
[56:96] Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.
[56:96] Therefore glorify the name of your Lord, the Great.
Selengkapnya...
Selasa, 16 Maret 2010
Bacaan Surah Al-Waqiah
Selasa, 06 Oktober 2009
KISAH SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar dikenal dengan nama lain Siti Birit, Lemahbang, dan Lemah Abang adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat, terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. Sebagai umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal yaitu "Manunggaling Kawula Gusti"
Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah "intelektual" yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Mesikipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah "budi pekerti". Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup "Walisongo". Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan Syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Konsep dan Ajaran
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tetang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian, sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syekh Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa "Allah itu ada dalam dirinya", yaitu "di dalam budi". Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu.
Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang "Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan". Dimana pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahap :
1. Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti sholat, zakat, dll;
2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
4. Ma'rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ’syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH).
Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’. Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya. Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”.
Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’
Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi. Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada. Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki. Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali
Kisah pada saat pasca kematian
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.
Sumber : www.wikipedia.org
Terdapat juga kisah yang lain mengenai Syekh Siti Jenar di Indonesia.
Pesan/ Dialog Syekh Siti Jenar ( Syekh Lemah Abang ) sblm wafat.
Syekh Siti Jenar, berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar, beliau menetap di Pengging Jawa Timur, disana Syekh Siti Jenar mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging ( Kebo Kenongo ) dan masyarakat, tetapi para Wali Jawadwipa/ Wali Songo tidak menyetujui alirannya, oleh karena itulah Syekh Siti Jenar dihukum mati th. 1506 M, dan dimakamkan di Anggaraksa alias Graksan, Cirebon sekarang ini. Sebelum wafat, Syekh Siti Jenar sempat berpesan kepada para dewan wali/ Wai Songo bahwa “ Kelak pada suatu zaman akhir, kalau ada kerbo bule mata kucing ( orang Belanda ) naik dari laut, itulah tandanya musibah kepada anak cucu anda,” katanya, sedang kenyataannya Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dan banyak menyengsarakan rakyat Indonesia.
Syekh Siti Jenar mempunyai efek khusus yang kita anggap sebagai “insiden” diantara pemuka-pemuka Agama Islam pada abad ke 16 M, lambat laun ketika itu banyak orang-orang yang mengaji tasawuf/ hakiki, misalnya : perihal ilmu bedanya antara Kawula dan Gusti dan Tunggalnya Kawula dan Gusti. Atas tuduhan Syekh Maulana Maghribi, bahwa Syekh Siti Jenar mengaku dirinya ALLAH, dan oleh Sunan kalijogo ditanyakan apakah benar tuduhan tersebut, beliau mengakuinya benar adanya, maka dewan wali dalam sidangnya sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi si tertuduh, dan Sekh Siti Jenar menerima putusan tersebut agar segera dilaksanakan, dan yang harus melaksanakan keputusan tersebut yaitu Sunan Kudus dengan keris Ki Kantanaga yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati.
Sebelum eksekusi berlangsung, terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan masyarakat karena memang disaksikan secara terbuka dihalaman masjid Agung Cirebon, dan dialog tersebut diantaranya sbb : Menempelnya keris Ki Kantanaga ke jasad Syekh Siti Jenar, terdengar suara yang sangat keras seprti beradunya kedua besi yang sangat besar, lalu para Wali saling tersenyum, sambil berkata,” Masa ada ALLAH seperti besi ?”. Syekh Siti Jenar menjawab,” Coba, tusuklah sekali lagi,”
Ketika tusukan kedua, Syekh Siti Jenar menghilang tidak ada ujud jasadnya. Para Wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti syaitan,?.Secepat kilat Syekh Siti Jenar menampakan diri lagi, sambil berkata, “ Coba tusuk sekali lagi?”
Ketika tusukan ketiga, Syekh Siti Jenar membujur tergolek di lantai masjid, dari lukanya keluar darah merah, dan para Wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti kambing.? Syekh Siti Jenar bangun hidup kembali tanpa luka dan berkata,” Coba tusuk sekali lagi?”.
Kemudian pada tusukan keempat , Syekh Siti Jenar rebah, mati dan dari lukanya mengalir darah putih, seketika itu para wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti cacing!”, karena berkali-kali tusukan selalu mati, hidup, mati, hidup, maka, Syekh Siti Jenar berkata, “ Lalu harus bagaimana mati saya menurut keinginan anda?”dan dijawab oleh seluruh Wali,” Biasa!”, seperti orang tidur badannya lemas, begitulah mati bagi seorang Insanul kamil.
Sesudah itu ditusuklah jasadnya dan wafatlah Syekh Siti Jenar seperti umumnya manusia, jasadnya mengecil sebesar kuncup bunga melati dan baunya semerbak mewangi bau harumnya melati.
Wallahuallam……
SYEKH SITI JENAR
Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499)
Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu
kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran
tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat
adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.
Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.
Siti Jenar dianggap telah merusakketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).
Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non
Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam.
Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.
Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat
Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie
(1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri.
Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon.
Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.
Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti
falsafah/faham/ajaran Siti Jenar.
Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar
tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:
Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat
yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;
Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi,
kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya;
Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah;
Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah
kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia;
Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan
manfaat pancaindera;
Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya;
Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru;
Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa :
Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud
samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah;
Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku
sebagai Tuhan;
Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang
mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi;
Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian,
bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia;
Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan
ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.
Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa :
Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;
Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya
indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri
dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud
mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran,
kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan;
Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.
Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam
kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian.
Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.
Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif).
Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal ,tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan
(Manunggaling Kawula-Gusti).
Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada,
sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi.
Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar).
Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.
Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang
tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir.Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri.
Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini.
Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci.
Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya.
Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”.*
Sidang para Wali
Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba,mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar.
Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan
antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya.
Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M. Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.
Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken ulah ngelmi,
NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki,
Nanging luwih kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi.
Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling aling,
Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati,
Sayekti kanthi nugraha, Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar,karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.
Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.
Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane
Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani
. . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal
dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah.
Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat
kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita.
Kinanti
Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad,
santa-santosaning kapti.
Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga
runggi.
Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani.
Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika,neng
kaanan ênêng êning.
Selengkapnya...
Kamis, 25 Juni 2009
Renungan
Assalamu'alaikum,
Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini.
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu;
1. Keluarga 2. Hartanya 3. Amalnya
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.
Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad ...Terdengarlah Suara Dari Langit
Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
• - Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan
Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
• - Apakah Kau Yang Telah Mengumpul Harta
Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Mengumpulmu
• - Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
• - Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan ....Terdengar Dari Langit Suara
Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan....
• - Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat,
Mengapa Kin i Terkulai Lemah
• - Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih,
Mengapa Kin i Bungkam Tak Bersuara
• - Mana Telingamu Yang Dahulunya
Mendengar, Mengapa Kin i Tuli Dari Seribu Bahasa
• - Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya
Setia, Mengapa Kin i Raib Tak Bersuara"
Ketika Mayat Siap Dikafan ...Suara Dari Langit Terdengar Memekik,"Wahai
Fulan Anak Si Fulan
• - Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat
Dengan Ridha
• - Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan
Murka Allah
• - Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah
Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
• - Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak
Akan Kembali Selamanya
• - Kin i Kau Tengah Safar Pada Sebuah
Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."
Ketika Mayat Siap Disholatkan ....Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
• - Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak
Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
• - Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya
Baik
• - Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya
Buruk."
Ketika MayatDiusung. ... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan
Anak Si Fulan..
• - Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah
Kebajikan
• - Berbahagialah Apabila Matimu Diawali
Taubat
• - Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh
Dengan Taat."
Ketika MayatDibaringkan Di Lian g Lahat.... terdengar Suara Memekik Dari
Langit,"Wahai Fulan Anak Si Fulan....
• Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu
Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita
Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan....
• - Dahulu Kau Tertawa, Kin i Dalam Perutku
Kau Menangis
• - Dahulu Kau Bergembira, Kin i Dalam
Perutku Kau Berduka
• - Dahulu Kau Bertutur Kata, Kin i Dalam
Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."
Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian... . Allah Berkata
Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku.... .
• Kini Kau Tinggal Seorang Diri
• Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
• Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan
Gelap..
• Mereka Pergi Meninggalkanmu. Seorang Diri
• Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar
Perintahku
• Hari Ini,....
• Akan Kutunjukan Kepadamu
• Kasih Sayang-Ku
• Yang Akan Takjub Seisi Alam
• Aku Akan Menyayangimu
• Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada
Anaknya".
Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman , "Wahai Jiwa Yang Tenang
• Kembalilah Kepada Tuhanmu
• Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
• Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah
Hamba-Hamba- Ku
• Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Anda Ingin Beramal Soleh ?
Tolong kirimkan Kepada Rakan-Rakan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...!!!
Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam
menjalani hidup ini.
Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut)
dan dalam sebuah hadithnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi almauti
ma'idzha", ertinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....
Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan
membaca email ini.
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa
dengan sesuatu yang kita tak pernah tau bila kedatangannya. Sesuatu yang
bagi sebahagian orang sangat menakutkan.
Tahukah kita bila kematian akan menjemput kita???
Sebarkan e-mail dakwah ini kepada orang terdekat Anda, dan mintalah mereka
untuk melakukan hal yang sama. Ini bukan surat ancaman berantai. Yang jelas
jika Anda tidak meneruskan e-mail ini, maka Anda telah menyia2kan
kesempatan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan beramal shalih. Jika
Anda lakukan dengan ikhlas insya Allah Anda akan menuai kebaikan. Mari
berlumba dalam kebaikan.
Selengkapnya...
Senin, 01 Juni 2009
AWALUDIN MA’RIFATULLAH : Awal agama mengenal Allah

Rasulullah SAW berjuang selama tiga belas tahun di Makkah. Itulah masa Rasulullah berdakwah dan menghimpun para pengikutnya. mula-mula secara sembunyi-sembunyi dan kemudian secara terang-terangan. Dalam masa tiga belas tahun itu, Rasulullah hanya ‘membawa Tuhan’ kepada para Sahabat dan memperkenalkan para Sahabat kepada Tuhan. Dalam majelis yang resmi atau tidak resmi, dalam keramaian, apabila sedang berjalan-jalan dengan para Sahabat, bahkan di setiap waktu Rasulullah menceritakan tentang Allah dan hari Akhirat. Tentang kebesaran, kesucian dan kekuasaan-Nya. Tentang kasih sayang dan keampunan-Nya. Tentang kuasa dan iradah-Nya dan tentang segala sifat yang ada pada Tuhan. Segala sifat-sifat Allah itu sangat-sangat dihayati oleh para Sahabat hingga mereka menjadi amat kenal dengan Tuhan. Bukan sekedar tahu, tetapi sangat kenal. Mereka menjadi orang-orang yang arifbillah. Hati-hati mereka sangat dekat dengan Tuhan, sangat sensitif dan peka dengan Tuhan. Mereka sangat menghayati kebesaran dan keagungan Tuhan.
Akhirnya jadilah para Sahabat orang-orang yang sangat cinta dan takut kepada Tuhan. Dalam hidup mereka, Allah lah yang menjadi perhatian utama. Allah lah yang bertakhta di hati-hati mereka. Banyak di kalangan Sahabat yang menjadi begitu takut dan rindu pada Tuhan dan karenanya hanya Tuhan yang memenuhi fikiran dan perasaan mereka. Perasaan takut dan cinta ini sangat kuat dan mendalam hingga adakalanya hati-hati para Sahabat tidak dapat menanggung bebannya. Ada Sahabat yang langsung mati ketika mengingat kebesaran Allah. Ada yang mati ketika ada orang menyebut nama Allah. Sementara yang jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri lebih banyak lagi. Bila disebut nama Allah, gementar hati-hati mereka. Namun dengan hati yang begitu tergila-gila dan rindu pada Tuhan, mereka tidak mempunyai jalan atau cara untuk melepaskan perasaan mereka. Mereka tidak ada cara untuk berhubungan atau berinteraksi dengan Tuhan. Maka terpaksa mereka menanggung dan memendam rasa cinta dan rindu itu. Mereka seolah-olah orang yang begitu dahaga tetapi tidak mendapat air untuk diminum. Mereka seperti orang yang sangat kelaparan tetapi tidak ada apa-apa untuk dimakan.
Mereka seperti orang yang sangat merindukan Kekasih Agungnya tetapi tidak dapat bertemu untuk memuji-muji dan meluahkan segala perasaan yang terpendam dan tercetus di hati. Allah biarkan saja mereka jadi begitu. Hanya pada tahun yang kesebelas, baru berlaku peristiwa Isra' Mi'raj. Jadi, baru pada tahun kesebelas datang
perintah shalat. Itulah satu hadiah yang sangat besar yang Allah kurniakan kepada para Sahabat supaya mereka dapat berinteraksi dan berhubung dengan-Nya. Supaya mereka dapat melepaskan segala perasaan rindu yang selama ini mereka tanggung. Supaya mereka dapat mengadu, berbicara, berbisik-bisik dan meminta-minta kepada Tuhan. Supaya mereka dapat meluahkan segala isi hati mereka dan bermanja-manja dengan Tuhan. Sungguh shalat itu suatu karunia yang amat besar bagi para Sahabat. Ia ibarat air di kala dahaga. Ia ibarat makanan di kala lapar. Ia ibarat pertemuan dengan kekasih yang sangat dirindukan.
Shalat menjadi buah hati Rasulullah dan para Sahabat. Shalat adalah istirahat/relaksasi bagi mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda:
Maksudnya: “Shalat adalah penyejuk mataku.”
Baginda juga pernah menyuruh Sayidina Bilal r.a. untuk azan dengan berkata:
“Wahai Bilal, berilah istirahat kepada kita semua!”
Demikianlah kedudukan shalat di hati Rasul dan para Sahabat. Tidak heranlah mereka tenggelam di dalam shalat. Mereka ‘mi'raj’ di dalam shalat. Tidak heran juga, ketika shalat,mereka lupa tentang dunia ini dan segala isinya baik yang berupa nikmat maupun kesusahan. Mereka asyik dan masyuk dengan Tuhan dalam shalat. Sayidina Ali k.w. lantaran khusyuknya di dalam shalat, tidak terasa apa-apa ketika dicabut anak panah dari betisnya. Shalat mereka yang sebeginilah yang telah menjadikan mereka pribadi-pribadi agung. Agung keimanan mereka. Agung keyakinan mereka dan agung akhlak mereka. Allah kurniakan kepada mereka 3/4 dunia dan semua bangsa bernaung di bawah kekuasaan mereka. Mereka membawa kedamaian dan keselamatan. Mereka penuhi dunia ini dengan keadilan dan kebahagiaan. Di sini kita sungguh-sungguh dapat melihat konsep pendidikan Rasulullah, yaitu awaludin ma'rifatullah. Awal-awal
agama mengenal Allah.
Para Sahabat dikenalkan kepada Allah hingga mereka menjadi orang-orang yang arifbillah, yaitu orang-orang yang sangat takut, cinta dan rindu kepada Allah dan orang-orang yang mabuk cinta dengan Allah. Dalam keadaan begitulah baru mereka diperintahkan untuk shalat dan menegakkan syariat Allah. Keseluruhan perintah syariat yang beribu-ribu itu diturunkan di Madinah. Ia hanya memakan waktu 10 tahun,
dibanding memperkenalkan Tuhan yang esa itu, yang memakan waktu 13 tahun di Makkah. Orang-orang yang menegakkan syariat Allah di Madinah itu sebenarnya ialah orang-orang yang sudah teramat takut dan cinta pada Tuhan. Orang-orang yang arifbillah. Hanya orang-orang seperti ini sahaja yang mampu menegakkan syariat Allah. Yang mampu memperjuangkan agama Allah. Yang mampu berkorban ke jalan Allah. Itulah kelemahan umat Islam hari ini. Sekedar tahu tentang Tuhan. Sekedar ada ilmu tentang Tuhan. Sekedar alimbillah. Tuhan masih di akal saja, belum di hati. Belum ada rasa bertuhan.
Belum ada rasa kehambaan. Jauh sekali dari memiliki rasa takut, rindu dan cinta pada Tuhan. Lebih-lebih lagi, belum mabuk cinta dengan Tuhan. Dalam kondisi begini, mereka disodok dengan shalat dan syariat. Disuruh dirikan shalat. Disuruh tegakkan syariat. Diperkenalkan hukum hudud dan sebagainya.
Orang yang belum kenal Tuhan dan orang yang belum memiliki rasa takut dan cinta pada Tuhan, mereka tidak akan mampu mendirikan shalat dan menegakkan syariat. Kalau pun mereka melakukannya, ia dilakukan secara terpaksa. Melakukan kerja secara terpaksa memang pahit, sakit dan perih. Sulit untuk istiqomah. Kenapa kita tidak membawa Tuhan kepada mereka? Kenapa tidak kitauperkenalkan Tuhan kepada mereka? Kalau manusia betul-betul kenal Tuhan, mereka tidak akan dapat mengelak diri dari jatuh cinta dan rindu kepada-Nya. Mereka tidak akan dapat mengelak diri dari mau berbakti kepada-Nya untuk merebut cinta dan kasih sayang-Nya. Bagaimana bisa kita tidak sayang dan tidak jatuh hati kepada Allah yang begitu berbakti, begitu menjaga, begitu mengawasi dan memenuhi segala keinginan dan keperluan kita. Yang penuh kasih dan belas kasihan kepada kita. Yang menyayangi kita lebih dari ibu kita sendiri. Yang menjaga kita siang dan malam tanpa istirahat dan tanpa tidur. Yang tidak pernah melupakan kita.
Marilah kita kembalikan manusia kepada Tuhan. Marila kita perkenalkan Tuhan itu kepada manusia supaya manusia kenal akan Tuhan. Karena awal-awal agama adalah mengenal Tuhan. Selagi kita belum kenal Tuhan, selagi itu kita belum mampu untuk beragama atau untuk menegakkan agama. Mengenal Tuhan itu tidak cukup sekedar tahu tentang Tuhan atau tahu tentang sifat-sifat Tuhan secara ilmunya, tetapi bagaimana merasakannya di hati. Hati mendapat rasa bertuhan, hati merasa Tuhan sentiasa melihat, hati merasa Tuhan itu Maha Mendengar, hati merasakan Tuhan itu berkuasa berbuat apa saja kepada hamba-Nya, hati merasakan Tuhan itu pengasih dan penyayang, yang sentiasa mencurahkan rezeki kepada hamba-Nya.
Setelah hati memiliki rasa bertuhan, secara otomatis hati akan dipenuhi rasa kehambaan, yaitu rasa lemah, rasa berdosa, rasa bergantung mengharap kepada-Nya. Hati merasa takut dan cinta pada Tuhan sepertimana yang dirasakan oleh para Sahabat yang dididik oleh Rasulullah lebih 1400 tahun yang lalu.
Selengkapnya...
Minggu, 17 Mei 2009
Makna

Menurut anda Tujuan Hidup itu apa...............?
ada yang mengatakan bahwa tujuan hidup adalah menjadi manusia yang berguna bagi kedua orang tua, nusa dan bangsa....!!! tapi menurut pandangan saya Tujuan Hidup itu adalah "Menuju Kematian" karena Tujuan berarti Jarak antara Awal dan Akhir, ingatlah setiap detik menuju kematian oleh karena itu manfaatkanlah hidup ini dengan sebaik-baiknya sebelum datang kata menyesal di kemudian hari.......!!!!
Selengkapnya...
Sabtu, 16 Mei 2009
Sudahkah......
Pada dasarnya Allah SWT ada dalam diri dan jiwa kita, dan didalam Al-Quran dijelaskan bahwa (Allah) lebih dekat dari urat lehermu sehingga kita dapat memahami bahwa Allah ada pada diri kita dimanapun kita berada, oleh karena itu kita dapat memahami arti dan makna dari shalat, karena sesungguhnya setiap manusia belum bisa dikatakan khusyu shalatnya kalau belum mengenal siapa Tuhanmu, siapa Nabimu dan siapa dirimu, setelah mengenal tentang siapa Tuhan,Nabi, dan Diri kita maka kita baru mengerti tentang Arti dari Shalat dimana setiap kita shalat tujuannya adalah untuk mensyukuri dan mengesahkan Allah SWT
Selengkapnya...
